Inilah 10 Makanan Penyembuh

Biarlah makanan menjadi obatmu. Kata-kata tabib Yunani kuno bernama Hippocrates itu begitu populer di dunia kedokteran. Pesan itulah yang kemudian mendorong para ilmuwan mencari tahu manfaat makanan bagi kesehatan tubuh.

Selama bertahun-tahun, para ahli gizi melakukan penelitian untuk mengidentifikasi manfaat nutrisi dari makanan tertentu. Mereka mempelajari protein, karbohidrat, kalori, lemak, mineral dan vitamin untuk menentukan manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.

Berikut sejumlah makanan yang memberi banyak manfaat untuk tubuh, seperti dikutip laman Methods of Healing.

1. Madu
Penelitian menunjukkan bahwa madu mengandung antibakteri dan antivirus. Studi lebih dalam menyebut madu bermanfaat untuk menyembuhkan luka dan baik untuk kesehatan pencernaan.

2. Green Tea
Penelitian menunjukkan, teh hijau membantu mengurangi risiko kanker, stroke, dan penyakit jantung. Teh hijau juga diyakini membantu mencegah penyakit diabetes tipe dua dan osteoporosis, serta meredakan radang usus.

3. Kenari
Makan 1,5 ons kenari setiap hari bisa menjadi makanan diet rendah lemak jenuh dan kolesterol yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung koroner.

4. Blueberry
Adalah salah satu buah dengan tingkat antioksidan tinggi. Kandungan zat di dalamnya membantu memperlambat penuaan, mengurangi risiko diabetes, menurunkan kolesterol, meningkatkan keterampilan motorik, serta menunjang kesehatan kemih dan penglihatan. Blueberry juga memiliki sifat antiinflamasi.

5. Delima
Sebagai buah kaya antioksidan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa delima membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan menurunkan tekanan darah. Bahkan, membantu menurunkan kolesterol dan mengurangi risiko kanker tertentu.

6. Rempah-rempah
Kayu manis membantu menurunkan kolesterol dan menstabilkan gula darah. Jahe membantu memperbaiki kesehatan pencernaan, dan mengandung antiinflamasi. Manfaat jahe sebagai pencegah kanker juga tengah dipelajari. Sementara sifat antiinflamasi kunyit diyakini dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer serta mengurangi risiko kanker.

7. Yogurt
Yang terbaik adalah yogurt polos. Kandungan kalsium, magnesium, Vitamin B-2 & B-12, dan probiotik yang dikenal sebagai bakteri baik dalam usus, bermanfaat menyehatkan sistem pencernaan serta kekebalan tubuh. Konsumsi yogurt secara teratur juga diyakini membantu menurunkan kolesterol.

8. Cokelat hitam
Jenis cokelat ini menawarkan manfaat baik bagi sistem kardiovaskular serta perlindungan dari kanker. Tak hanya itu, mengonsumsi cokelat hitam juga bisa membangkitkan suasana hati yang baik untuk kesehatan emosional dan mental.

9. Salmon
Salmon kaya omega-3 asam lemak dan protein, rendah kalori, rendah lemak jenuh, dan memiliki sifat antiinflamasi. Manfaat kesehatan ikan salmon termasuk pencegahan diabetes, Alzheimer, kanker serta menyehatkan sistem kardiovaskular.

10. Brokoli
Brokoli penuh dengan vitamin seperti asam folat, vitamin A, B6 dan K. Mineral seperti kalsium dan kalium membuatnya lebih sehat. Brokoli dianggap sebagai makanan penyembuhan yang diaktifkan oleh phytochemical indole-3-carbinol dan sulforaphane, membantu melawan kanker.

Cegah Osteoporosis dengan Jus Tomat

VIVAnews - Gaya hidup sehat memainkan peran penting dalam upaya pencegahan dini pengeroposan tulang atau osteoporosis. Tim peneliti dari University of Toronto, Kanada, menganjurkan konsumsi jus tomat dua gelas sehari demi tulang lebih kuat.

Seperti dikutip dari Daily Mail, anjuran itu berdasar penelitian terhadap 60 wanita menopause usia 50-60 tahun. Dalam penelitian ini, mereka diminta menghentikan konsumsi makanan mengandung tomat selama sebulan.

Hasilnya, terjadi peningkatan kadar N-telopeptide dalam darah. N-telopeptide merupakan bahan kimia alami yang biasanya masuk ke dalam darah ketika terjadi kerapuhan pada tulang.

Selama empat bulan berikutnya, partisipan dipilah ke dalam tiga kelompok dengan perlakukan berbeda. Kelompok pertama diminta mengonsumsi jus tomat setiap hari dengan kandungan likopen rata-rata 15 mg. Kelompok kedua mendapat asupan suplemen dengan kandungan likopen 35 mg. Sedangkan kelompok terakhir mengonsumsi plasebo atau suplemen palsu.

Hasilnya, terjadi penurunan kadar N-telopeptide dalam darah yang cukup signifikan pada kelompok yang mengonsumsi jus tomat dan suplemen likopen. Sementara wanita dalam kelompok yang mengasup plase tak mengalami perubahan kondisi.

Seperti tertuang dalam Jurnal Osteoporosis Internasional, dua gelas jus tomat dengan kadar likopen 15 mg cukup untuk mempertahankan kekuatan tulang. Kandungan likopen pada tomat bahkan bermanfaat sebagai antioksidan, mengurangi risiko serangan jantung, dan kanker prostat.

Ceplukan (Physalis angulata L.)

Pengenalan terhadap tanaman ceplukan dapat dilakukan antara lain dengan mempelajari tentang taksonomi, morfologi, serta beberapa kerabat dekat tanaman ceplukan tersebut.
1. Taksonomi Tanaman Ceplukan
Menurut ilmu tumbuh-tumbuhan (taksonomi) tanaman ceplukan termasuk dalam golongan dan tata nama tumbuhan sebagai berikut.

Kingdom     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi      : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas       : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas   : Asteridae
Ordo        : Solanales
Famili      : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus       : Physalis
Spesies     : Physalis angulata L.

Berdasarkan daerahnya, ceplukan dikenal dengan berbagai nama sebagai berikut.

Nama asing  : Morel berry
Ambon       : Daun boba
Makasar     : Daun kopo-kopo, daun loto-loto
Minahasa    : Leletoken
Tinimbar    : Lapunonat
Seram selatan : Lapununat
Ternate     : Dagameme
Sumatra     : Daun boba, daun kapo-kapo, daun lato- lato
Sumatra timur : Leletop
Sunda       : Cecendet, cecendet kunir, cecenet, cecenetan, cicindit
Jawa        : Ceplukan, ceplukan sapi, ceplokan, ciplukan
Madura      : Yoryoran, yuryuran
Kangean     : Keceplokan
Bali        : Angket, keceplokan, kopok-kopokan, padang rase
Sasak       : dededes, kenampak
Melayu      : Ceplukan

2. Morfologi Tanaman Ceplukan

Terdapat sedikit perbedaan ciri-ciri morfologi antara tanaman ceplukan jenis Physalis angulata LINN dengan Physalis minima LINN, namun yang akan di gunakan dalam penelitian ini adalah Physalis angulata LINN. Tanaman ceplukan ini merupakan tanaman yang tumbuh semusim; memiliki akar, batang daun, bunga, buah, dan biji. Physalis angulata L memiliki daun forma, yaitu forma yang berbatang hijau, dengan tangkai daun hjau, tulang daun utama agak lembayung, dan relatif tidak berambut, serta forma yang berbatang lembayung, dengan pucuk batang dan tangkai daun lembayung, berambut pendek putih. Ciri-ciri morfologi tanaman ceplukan dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Akar
Tanaman ceplukan termasuk tanaman berbiji belah, memiliki akar tunggang, akar cabang, dan akar serabut. Akar merupakan bagian dari tumbuhan yang berada di dalam tanah. Bentuk akar bulat, memanjang, dan berwarna putih. Dari akar utama, tumbuhan akar cabang, dan dari akar cabang ini tumbuh akar serabut. Perakaran tanaman ceplukan tidak intensif, tumbuhan menyebar dan tidak masuk jauh ke dalam lapisan tanah bawah. Perakaran tanaman berfungsi untuk memperkuat berdirinya tanaman, menyerap air dan hara dari dalam tanah, serta mengangkut zat hara ke dalam tubuh tanaman. Forma perakaran tersebut memberikan petunjuk bahwa kesuburan tanah di lapisan atas akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman ceplukan. Akar tanaman ceplukan berasa agak pahit.
b. Batang dan Cabang
Batang tanaman ceplukan tegak, dengan tinggi kadangkala dapat mencapai 1 meter. batang bawah bulat, beralur kecoklatan. Batang yang telah tua berkayu, berongga, dan berusuk atau bersegi tajam. Kulit batang berwarna hijau. Ada yang berbulu, namun ada pula yang gundul. Percabangan, umumnya telah muncul pada ketiak daun ketiga terdekat dengan tanah. Percabangan tersebut cenderung membentuk habitus tanaman ceplukan, sehingga tetap pendek dan mendatar tidak jauh dari permukaan tanah.
Percabangan tanaman ceplukan yang terjadi pada ketiak daun kesepuluh atau lebih, biasanya tumbuh kuat, sedangkan tunas di ketiak daun di bawahnya, tumbuh tidak begitu kuat. Percabangan semacam ini akan membentuk ceplukan relatif lebih tinggi. Tanaman muda yang memiliki 10 daun biasanya telah mencapai 10 cm dari tanah.
c. Daun
Daun tanaman ceplukan yang muncul pertama hingga kelima, berbentuk oval, berurat jelas, dengan tepi polos, tidak berlekuk atau bergerigi. Daun pertama berukuran paling kecil, sedangkan daun-daun yang yang tumbuh selanjutnya, umumnya berukuran lebih besar. Daun keenam dan daun-daun berikutnya berlekuk di bagian tepinya. Secara umum, daun ceplukan berbentuk bulat telur memanjang (lanset), berujung runcing, dengan panjang 5cm- 15cm dan lebar 2,5 cm – 10,5 cm. Helaian daun ceplukan tipis, tampak kaku, dan cepat menjadi kayu setelah dipetik. Ibu tulang daun bagian pangkal berwarna keunguan. Tangkai daun berwarna hijau dan berurat keputihan. Panjang tangkai daun sekitar 2 cm, namun tangkai daun tanaman muda kadang-kadang bisa mencapai 9 cm. Daun ceplukan bila diremas berbau agak langu. Daun yang telah tua menguning, kemudian menjadi cokelat, dan akhirnya gugur.
d. Bunga
Bunga ceplukan berbentuk tunggal. Biasanya muncul dari ketiak daun kedelapan atau ketiak daun yang di atasnya. Bunga ceplukan terdiri atas beberapa bagian antara lain : tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, tangkai sari dan tangkai putik.
e. Buah
Setelah terjadi persarian, daun mahkota akan mengerut, menguncup, mongering, dan akhirnya gugur. Bagian ujung kelopak bunga yang tertinggal, akan menguncup dan bagian tengahnya mengembung. Kelopak di bawah pangkal melipat kearah dalam, sehingga tampak seperti payung yang tidak mekar. Sering dengan pembesaran buah ceplukan, bagian kelopak yang melipat sedikit demi sedikit terangkat. Kelopak yang semula dalam posisi tegak, sedikit demi sedikit menunduk ke bawah, karena terbebani oleh buah yang semakin besar dan semakin berat. Akhirnya, kelopak menggantung pada tangkai yang berpijak pada ketiak daun. Kelopak berubah warna dari hijau muda kehijau kekuningan dan berurat lembayung. Bakal buah tumbuh menjadi buah kecil berwaarna hijau kekuningan dan berkembang hingga mencapai ukuran normal. Buah ceplukan merupakan buah buni, yang berbentuk bulat seperti kelereng, dengan kulit yang tipis dan licin. Panjang buah ceplukan berkisar antara 14 mm – 18 mm, berdiameter sekitar 1,2 cm. Tanaman ceplukan ini mampu menghasilkan hingga 250 buah selama hidupnya.
f. Biji
Buah ceplukan muda berkualitas tipis dan berwarna hijau. Memiliki biji bulat kecil, gemuk, berwarna putih, dan terdapat di sela-sela daging buah berwarna putih kehijauan. Biji setelah tua, terdapat di sela-sela daging lunak yang berwarna putih kotor. Daging buah tersebut berasa agak manis dan beraroma agak harum spesifik. Biji ceplukan berkulit keras, dengan panjang kurang dari 1mm, lebih kecil dibanding biji tomat. Buah ceplukan besar berisi sekitar 140 biji. Biji ceplukan mengalami masa istirahat bagi biji (dormansi), sehingga dapat bertahan lama di tanah kering. Pada awal musim hujan, biji tersebut akan berkecambah dan tumbuh menjadi tanaman baru.

3. Daun Ceplukan

Daun ceplukan adalah daun Physalis angulata L, suatu solanceae. Pemerian : warna hijau; tidak berbau; rasa pahit.

a. Makroskopik
Helaian daun berwarna hijau, permukaan bawah berwarna lebih muda, bentuk jorong, panjang daun dapat mencapai 10 cm, lebarnya sampai 5 cm, tetapi daun sedikit bergerigi tidak beraturan, pangkal daun agak meruncing dan sering asimetris, ujung daun runcing tangkai daun panjang.

b. Mikroskopik
Pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas terdiri dari satu lapis sel bentuk empat persegi panjang, epidermis bawah terdiri dari sel, juga berbentuk empat persegi panjang. Pada sayatan paradermal tampak sel epidermis atas dan bawah bentuk polygonal dengan dinding antiklinal berkelok, stomata tipe anisositik. Rambut penutup bentuk kerucut terdiri dari 1 sampai 2 sel, kutikula tebal dan kasar, rambut kelenjar dengan 1 rangkai 1 kepala. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel, bentuk seperti silinder dengan panjang kira-kira setengah bagian mesofil, mengandung tetes minyak, jaringan bunga karang terdiri dari sel bentuk bundar atau bundar telur, berongga. Hampir pada setiap sel dari lapisan palisade terdapat lapisan kristal kalsium oksalat. Kolenkim terdapat di bawah epidermis atas dan epidermis bawah ibu tulang daun, setelah lapisan kolenkim terdapat sel-sel parenkim bentuk agak bundar, dinding sel tebal. Pada bagian tengah tulang daun terdapat berkas pembulu tipe dikolateral.
c. Serbuk
Berwarna hijau. Fragmen pengenal adalah sel epidermis atas dan bawah dengan stomata tipe anisositik, fragmen mesofil dengan Kristal kalsium oksalat bentuk roset, rambut penutup dan rambut kelenjar.

4. Sifat dan khasiat:
Tanaman ceplukan bersifat analgetik (penghilang nyeri), detoksikan (penetral racun) serta pengaktif fungsi kelenjar-kelenjar tubuh. Saponin yang terkandung dalam ceplukan memberikan rasa pahit dan berkhasiat sebagai anti tumor dan menghambat pertumbuhan kanker, terutama kanker usus besar. Flavonoid dan polifenol berkhasiat sebagai antioksidan. Seluruh bagian tanaman dapat digunakan untuk mengobati kanker. Buah Physalis angulata L. berkhasiat sebagai obat gusi berdarah, obal bisul, dan juga obat mulas, sedangkan daunnya berkhasiat sebagai obat bisul. Untuk obat gusi berdarah dipakai ±30 gram buah masak Physalis angulata L., dengan cara dicuci dan dimakan (Anonim, 2007).

5. Standar sebagai simplisia
Kadar abu yang terkandung tidak lebih dari 16 %. Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari 0,5 %. Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 2 %. Penyimpanan dilakukan di dalam wadah tertutup.

6. Kandungan kimia:
Kandungan kimia dalam herba ceplukan antara lain Fisalin B, Fisalin D, Fisalin F, Withangulantin A. Pada biji antara lain protein, minyak lemak, asam palmitat dan asam stearat. Akar dari ceplukan mengandung alkaloid, sedangkan pada daun mengandung glikosida flavonoid dan pada tunas mengandung flavonoid dan saponin. (Sudarsono dkk., 2002).

Temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb)

Dalam kesempatan ini saya akan memberikan data-data mengenai tumbuhan asli Indonesia yaitu Temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb). Tumbuhan ini yang akan menjadi topik penelitian skrpsi saya. Dalam penelitian ini saya akan mengestrak dan mengisolasi senyawa metabolit yang ada apada tanaman temulawak ini. Namun ada baiknya saya member sedikit informasi mengenai tanaman temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb) ini.

a. Klasifikasi
Menurut ilmu tumbuh-tumbuhan (taksonomi) tanaman temulawak termasuk dalam golongan dan tata nama tumbuhan sebagai berikut (Anonim 2, 2000) :
Divisi        : Sphermatophyta
Subdivisi  : Angiospemae
Kelas        : Monocotyledonae
Bangsa     : Zingiberales
Suku         : Zingiberaceae
Marga      : Curcuma
Jenis         : Curcuma xanthorihiza Roxb
b. Habitat dan Pertelaan
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli Indonesia (Setiawan, 2000). Penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Tumbuhan ini telah dibudidayakan dan banyak ditanam atau tumbuh liar di pekarangan atau tegalan terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar (Kunia, 2006), banyak juga ditemukan di hutan-hutan daerah tropis seperti di hutan jati dan di padang alang-alang (Anonim 1, 1979). Tanaman ini tumbuh produktif pada tempat terbuka yang terkena sinar matahari dan dapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebaiknya tumbuhan ini ditanam pada ketinggian 200-600 m diatas permukaan laut (Setiawan, 2000).
Tanaman herba ini memiliki tinggi kurang lebih 2 meter, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap (Anonim 1, 1979). Akar-akar dibagian ujung membengkak membentuk umbi yang kecil (Setiawan, 2000). Umbi akan muncul dari pangkal batang. Rimpang induk dapat memiliki 3-4 buah rimpang, warna kulit rimpang cokelat kemerahan atau kuning tua, sedangkan warna daging rimpang oranye tua atau kuning. Rimpang temulawak terbentuk di dalam tanah pada kedalaman sekitar 16 cm. Tiap rumpun umumnya memiliki 6 buah rimpang tua dan 5 buah rimpang muda (Laksmi, 2007). Rimpang induk bentuknya jorong atau gelendong, rimpang cabang keluar dari rimpang induk yang ukuranya lebih kecil yang tumbuh ke arah samping dan warna lebih mudah (Setiawan, 2000).
Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 sampai 2,5 meter berwarna hijau atau cokelat gelap. Pelepah daunnya saling menutupi membentuk batang (Laksmi, 2007). Daunnya bundar panjang , mirip daun pisang, tiap batang mempunyai daun 2-9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31-84 cm dan lebar 10-18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43-80 cm. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak (Laksmi, 2007).
Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan bunganya berukuran pendek dan lebar, warna putih atau kuning tua dan pangkal bunga berwarna ungu. Bunga mejemuk berbentuk bulir, bulat panjang, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm. Bunga muncul secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung yang besar dan beraneka ragam dalam warna dan ukurannya. Mahkota bunga berwarna merah. Bunga mekar pada pagi hari dan berangsur-angsur layu di sore hari. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8-13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4,5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25-2 cm dan lebar 1 cm. Temulawak belum pernah dilaporkan menghasilkan biji, karena penanaman temulawak dengan cara menanam rimpang temulawak tersebut. Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang) (Laksmi, 2007).
c. Kegunaan
Kurkuminoid secara klinis berkhasiat mencegah penyakit jantung koroner, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penggumpalan darah, penambah nafsu makan, pengobatan hepatitis, penurun kadar kolesterol darah, mencegah stroke (Sidik,2006). Selain itu kurkumin sebagai acnevulgaris, anti inflamasi (anti radang), antioksidan, anti hepototoksik (anti keracunan empedu). Kandungan kurkumin dan monodesmetoksi kurkumin yang bersifat antitumor (Kunia, 2006).
Minyak atsiri pada temulawak terdiri atas 32 komponen yang secara umum bersifat meningkatkan produksi getah empedu dan mampu menekan pembengkakan jaringan, membersihkan perut, dan memperlancar ASI serta dapat membunuh mikroba atau fungistatik. Xanthorrizol salah satu komponen minyak atsiri pada percobaan invitro berkhasiat mengobati kanker payudara, paru-paru dan ovarium dan pencegah rusaknya email gigi (mencegah plak) (Laksmi, 2007). Zat warna kuning temulawak (kurkuminoid) dan minyak atsiri mempunyai kemampuan mempercepat regenerasi sel-sel hati yang mengalami kerusakan akibat pengaruh racun kimia (Kunia, 2006).
d. Mikroskopik

Epidermisnya bergabus, dan terdapat sedikit rambut yang berbentuk kerucut bersel satu. Dibawahnya terdapat periderm yang kurang berkembang. Korteks dan silinder pusat parenkimatik terdiri dari sel parenkim berdinding tipis berisi butir pati. Dalam parenkim tersebar banyak sel minyak yang berisi minyak berwarna kuning dan zat berwarna jingga., juga terdapat idioblas berisi hablur kalsium oksalat berbentuk jarum kecil. Butir pati berbentuk pipih, bulat panjang ampai bulat telur memanjang (Laksmi, 2007).

Panjang butir 20 ŵm sampai 70 ŵm, lebar 5 ŵm samapai 30 ŵm, tebal 3 ŵm sampai 10 ŵm. Lamella jelas dan hilus di tepi, berkas pembuluh tipe kolateral, tersebar tidak beraturan pada parenkim korteks dan pada silinder pusat. Berkas pembuluh disebelah dalam endodermis tersusun dalam lingkaran dan letaknya lebih berdekatan satu dengan yang lainnya. Pembuluh didampingi oleh sel sekresi yang panjangnya sampai 200 ŵm, berisi zat berbutir warna coklat dengan besi (III) klorida LP menjadi lebih tua (Anonim 1, 1979).

Semoga informasi yang saya berikan dapat bermanfaat bagi temen-temen semua…o ya..jangan lupa beri komentar yah …makasih !

Pustaka

Anonim 1. (1979). Materia Medika Indonesia, Jilid III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim 2. (2000). Tanaman Obat Indonesia, Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial republik Indonesia Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2000.

Anonim 3. (2005). Isolasi Temulawak, (online). (http://www.iptek.net.id/ind/cakara_ Tanaman obat, diakses 28 Desember 2009)

Basila Rahmayani. (2005). Identifikasi Senyawa Metabolit Skunder Pada Kulit Buah Naga (Hylocereus undatus) Dalam Ekstrak Etil Asetat.Skripsi Kimia FMIPA UNY Yogyakarta.

Hardjono Sastrohamidjojo.(1985). Kromatografi. Yogyakarta: Liberty

Siwak (Salvadora persica)

Klasifikasi tanaman Salvadora persica menurut Tjitrosoepomo (1998) adalah sebagai berikut :

Divisio        : Embryophyta
Sub Divisio : Spermatophyta
Class          : Dicotyledons
Sub Class   : Eudicotiledons
Ordo          : Brassicales
Family         : Salvadoraceae
Genus         : Salvadora
Spesies        : Salvadora persica
Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki sebagaimana pada gambar 2.1. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas. (Al-Khateeb, 1991).
Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak sendiri berasal dari bahasa arab ‘yudlik’ yang artinya adalah memijat (massage). Siwak lebih dari sekedar sikat gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay system. Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Bentuk batang siwak dapat dilihat pada gambar 2.2. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi. (El-Mostehy et al., 1991).
@font-face { font-family: “Cambria Math”; }@font-face { font-family: “Calibri”; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: 115%; font-size: 11pt; font-family: “Calibri”,”sans-serif”; }.MsoChpDefault { }.MsoPapDefault { margin-bottom: 10pt; line-height: 115%; }div.Section1 { page: Section1; }Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :
  1. Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.
  2. Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
  3. Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.
  4. Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.
  5. Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Secara Kimiawi, kulit batang kayu siwak yang kering bila diekstrak dengan alkohol 80% dan kemudian diekstrak dengan ether, lalu diteliti secara terperinci kandungannya melalui ECP (Exhaustive Procedure Chemicle), maka akan ditemukan zat-zat kimia sebagai berikut : Trimetilamin, chloride, resin, sejumlah besar fluoride dan silica, sulfur dan vitamin C (El-Mostehy et al., 1981). Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri. Khoory (1989) menjelaskan bahwa siwak kaya dengan fluorida dan silika, fluorida mengerahkan proses antikariogenik dengan cara sebagai berikut : 1) Perubahan hydroxypatite menjadi fluorapatite yang lebih tahan terhadap acid dissolution. 2) Bercampurnya acidogenic organisme di dalam plak gigi sehingga mengurangi pH dari plak gigi. 3) Membantu memulihkan kembali gigi yang baru rusak. 4) Membentuk efek penghambat terhadap pertumbuhan bakteri pada plak gigi. Adapun silika berfungsi membantu membersihkan gigi karena silika bekerja sebagai bahan penggosok yang dapat menghilangkan noda. (Khoory, 1989)

Spektroskopi UV-Vis

Spektroskopi adalah studi mengenai interaksi cahaya dengan atom dan molekul. Radiasi cahaya atau elektromagnet dapat dianggap menyerupai gelombang. Dasar spektroskopi UV-Vis adalah serapan cahaya. Bila cahaya jatuh pada senyawa, maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul-molekul sesuai dengan struktur dari molekul senyawa tersebut. Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum UV-Vis tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra UV-Vis dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Oleh sebab itu, serapan radiasi UV-Vis sering dikenal sebagai spektroskopi elektronik. Keuntungan dari serapan ultraviolet yaitu gugus-gugus karakteristik dapat dikenal dalam molekul-molekul yang sangat kompleks (Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 11).
Panjang gelombang cahaya UV-Vis jauh lebih pendek daripada panjang gelombang radiasi inframerah. Spektrum sinar tampak terentang dari sekitar 400 nm (ungu) sampai 750 nm (merah), sedangkan spektrum ultraviolet terentang dari 100 nm sampai 400 nm. Kuantitas energi yang diserap oleh suatu senyawa berbanding terbalik dengan panjang gelombang radiasi :
∆E = h V = hc / λ
dengan    ∆E     = energi yang diabsorpsi, dalam erg
h     = tetapan Planck, 6.6 x 1027 erg det-1
V     = frekuensi, dalam Hz
c     = kecepatan cahaya, 3 x 1010 cm/det
λ    = panjang gelombang, dalam cm
Spektrum ultraviolet adalah suatu gambar antara panjang gelombang atau frekuensi serapan lawan intensitas serapan (transmitasi atau absorbansi). Spektroskopi UV-Vis digunakan untuk menentukan gugus kromofor yang terdapat dalam sampel. Istilah kromofor digunakan untuk menyatakan gugus tak jenuh kovalen yang dapat menyerap radiasi dalam daerah-daerah UV-Vis (Hardjono Sastrohamidjojo, 2001 : 12-22).
Daerah UV yang paling banyak penggunaannya secara analitik mempunyai panjang gelombang 200 – 380 nm dan disebut sebagai UV pendek (dekat). Sedangkan panjang gelombang daerah tampak (visible) berkisar antara 380 – 780 nm (Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 11).

Kromatografi Kolom Gravitasi (KKG)

Kromatografi kolom termasuk kromatografi serapan yang sering disebut kromatografi elusi, karena senyawa yang akan terpisah akan terelusi dari kolom. Kolom kromatografi dapat berupa pipa gelas yang dilengkapi dengan kran dan gelas penyaring di dalamnya. Ukuran kolom tergantung pada banyaknya zat yang akan dipisahkan. Untuk menahan penyerap yang diletakkan di dalam kolom dapat digunakan glass woll atau kapas (Hardjono S., 1985 : 6).
Kromatografi kolom dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) pada prinsipnya hampir sama. Apabila suatu cuplikan yang merupakan campuran dari beberapa komponen dimasukkan melalui bagian atas kolom, maka komponen yang diserap lemah oleh adsorben akan keluar lebih cepat bersama eluen, sedangkan komponen yang diserap kuat akan keluar lebih lama.
Zat-zat aktif yang digunakan sebagai penyerap dalam kromatografi kolom sering merupakan katalisator yang baik, ini merupakan bahaya yang perlu mendapat perhatian. Alumina, terutama bila bersifat alkali, sering menyebabkan perubahan kimia dan menimbulkan reaksi-reaksi, sebagai contoh dapat menyebabkan kondensasi dari aldehida-aldehida dan keton-keton, sehingga bila hal ini terjadi maka harus menggunakan alumina yang bersifat netral. Silika gel dapat menyebabkan isomerisasi dari berbagai senyawa-senyawa seperti terpen dan sterol (Hardjono S., 1985 : 10).
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.