Cara Instan Bangkitkan Percaya Diri

Apa yang dirasakan ketika pertama kali diberitahu, Anda mendapat promosi, namun divisi baru itu ternyata diawaki karyawan yang mayoritas pria, dan lebih tua dari Anda? Gugup? Bingung? Tak percaya diri?

Meski emansipasi wanita sudah bergaung di bumi pertiwi, dan sebagian kaum adam telah dapat menerima kesetaraan gender, tapi karena pengaruh feodalisme dan budaya ketimuran, banyak pria Indonesia yang masih memandang wanita dengan sebelah mata. Maka itu, tak mengherankan bila masih banyak wanita yang tak percaya diri saat berada di posisi yang sejajar atau di atas pria.

Tapi, bukan berarti Anda diam saja saat rasa tidak percaya diri itu muncul. Inilah tips agar Anda memiliki rasa percaya diri dan menjadi pemimpin wanita yang andal.

1. Tunjukan kualitas
Seorang pemimpin harus dapat mengendalikan dan mengarahkan anak buahnya sesuai target yang diinginkan perusahaan. Lakukan itu dengan baik. Buktikan bahwa Anda adalah pemimpin baik, dan anak buah tidak dapat ‘main-main’ dengan Anda.

2. Miliki karisma
Pemimpin baik adalah pemimpin yang disegani, bukan ditakuti. Karena, dengan menjadi figur yang disegani, pemimpin akan dihormati dan diteladani. Maka jadikan diri Anda berkarisma. Caranya, jadilah pemimpin yang perhatian pada anak buah, selalu dapat menemukan jalan keluar atas masalah yang dihadapi dalam mencapai target, memiliki integritas, dan lebih mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi.

3. Jaga kesehatan
Seseorang dapat memiliki performa baik, jika kondisinya fit. Maka jaga kesehatan Anda dengan menjalani hidup sehat, seperti berolahraga dan mengonsumsi suplemen bervitamin, serta hindari gaya hidup yang membuat Anda tidak segar ketika berhadapan dengan anak buah.

4. Perhatikan penampilan
Apa yang nampak pada diri Anda, mencerminkan siapa Anda. Maka berpenampilanlah dengan baik agar Anda dipuji, bukan digunjing karena berpenampilan yang tak enak dipandang. Tak ada salahnya mengikuti mode. Tapi hati-hati, jangan menjadi korban mode. Karenanya, kenakan pakaian yang cocok untuk postur tubuh, warna kulit, dan kepribadian Anda.

4 Trik Atasi Rasa Bosan Bekerja

Menyelesaikan pekerjaan sama setiap hari memang dapat menimbulkan kejenuhan dalam bekerja. Akibatnya, semangat kerja menurun. Dan, Anda pun tak punya motivasi untuk menuntaskan pekerjaan yang dibebankan perusahaan.

Saat rasa bosan di kantor melanda Anda, jangan didiamkan. Buat diri Anda bersemangat dan termotivasi untuk kembali bekerja. Bagaimana membangkitkan motivasi kerja?

Semangat dan motivasi ada dalam diri seseorang karena dipengaruhi faktor intern dan ekstern, seperti masalah dalam keluarga, sikap dan kebijakan pimpinan yang tidak kondusif, penyakit yang sedang Anda derita, keinginan untuk naik jabatan, atau tergiur bonus yang dijanjikan perusahaan.

Jika tak ada hal negatif pada faktor intern dan ekstern yang membuat suasana hati Anda merosot,  semangat dan motivasi seperti bara yang dikipasi, dan memunculkan api yang berkobar-kobar.
Sebaliknya, sedikit saja ada hal negaitf pada kedua faktor tersebut, semangat dapat padam seketika.

Nah, agar Anda tidak ditegur pimpinan, diberi surat peringatan (SP), atau bahkan dipecat perusahaan karena loyo dan dianggap tidak berguna, berikut tipsnya.

1. Pertahankan professionalisme
Perusahaan dan keluarga merupakan dua tempat berbeda dengan kebutuhan dan kepentingan yang berbeda pula, meski Anda hidup di lingkungan keduanya. Pisahkan dunia kerja Anda dengan kehidupan rumah tangga dan keluarga.

Jangan pernah membawa-bawa masalah rumah tangga dan keluarga ke tempat kerja. Dengan cara ini, mood Anda untuk menghadapi pekerjaan, tidak terganggu. Semangat dan motivasi pun utuh, tidak berkurang. Apalagi lenyap.

2. Jangan lupakan tujuan bekerja
Ketika Anda mengirim lamaran pekerjaan, cemas menunggu panggilan, berjuang keras ‘mengalahkan’ pelamar lain saat sesi wawancara, dan akhirnya mulai mengerjakan tugas yang diembankan perusahaan, apa tujuan yang ingin Anda capai dengan semua perjuangan itu?

Penghasilan yang baik agar dapat memenuhi semua kebutuhan, dan dapat hidup nyaman serta terhormat bersama orangtua, istri, dan anak-anak?

Jangan sia-siakan perjuangan itu. Jika saat ini Anda mempunyai  masalah dengan perusahaan, cari jalan keluarnya, tapi jangan kendorkan semangat dan motivasi kerja Anda. Jika kinerja Anda merosot, bahkan hingga di bawah standar, percayalah, Anda justru akan menghadapi masalah yang lebih besar, karena bisa saja Anda dipecat dengan tidak hormat.

3. Berpikir positif
Hidup ini penuh dengan masalah. Ini tak dapat diingkari. Sebuah organisasi bernama perusahaan pun pasti begitu. Apalagi karena organisasi ini memiliki begitu banyak karyawan dan aset yang harus dikelola dan dikembangkan dengan baik. Maka berpikirlah positif terhadap perusahaan Anda. Meski Anda tahu ada yang negatif di perusahaan itu, tetap lihat saja sisi positifnya. Ini membantu Anda untuk tetap bersemangat dalam bekerja.

4. Jaga komunikasi
Tak dapat dipungkiri, kebijakan perusahaan dan sikap pimpinan dapat menjadi salah satu faktor yang menurunkan mood karyawan untuk bekerja. Jaga komunikasi untuk mencari solusinya. Jika tidak bisa menghadapi pimpinan atau perusahaan seorang diri, ajak teman senasib untuk menghadapinya. Ruang komunikasi seringkali efektif untuk menyelesaikan masalah, karena umumnya perusahaan tak ingin terjadi gejolak di dalam tubuhnya.

Bahaya Menjadi Si Gila Kerja

Selama ini mungkin Anda bekerja dengan semangat untuk mencapai kesuksesan tertentu. Baik naik gaji, bonus, ataupun menggapai jenjang karir yang lebih tinggi. Tetapi, jika sistem kerja Anda tidak teratur, setiap hari lembur dan tidak menyediakan waktu untuk beristirahat, ketika kesuksesan karir Anda raih, justru kesehatan bisa memburuk.

“Banyak orang menekan dirinya sendiri untuk hidup dengan tidak sehat demi mengejar kesuksesan. Tetapi, tekanan kerja tinggi dan jam kerja yang panjang, bisa membawa seseorang ke dalam masalah kesehatan serius bahkan bisa memperpendek umur,” kata George Griffing, M.D., profesor pengobatan internal dari Saint Louis University, Filipina, seperti dikutip dari Times Of India.

Banyak bahaya kesehatan yang mengintai jika Anda gila kerja. Bukan hanya masalah kesehatan fisik tetapi juga psikologis. Berikut enam masalah yang timbul ketika seseorang menjadi workaholic.

1. Lupa bersantai
Stres karena pekerjaan dalam kadar tertentu memang cukup baik untuk ‘memaksa’ Anda tetap bekerja dan termotivasi. Tetapi, jika dibiarkan dan Anda lupa cara memanjakan diri, kehidupan hanya akan dilingkupi stres. Emosi Anda pun menjadi tidak stabil.

2. Tidak bisa menikmati makanan
Makanan selezat apapun tidak akan bisa Anda nikmati jika dikonsumsi di depan komputer, sambil conference call atau menyelesaikan deadline. Orang yang gila kerja cenderung merasa ‘membuang waktu’ jika menikmati makan siangnya di tempat makan tanpa membicarakan atau menyelesaikan pekerjaan.

3. Tidur minim
Seseorang yang menyebut dirinya profesional, berarti dia bisa membedakan kapan waktu pribadi dan kapan waktu untuk bekerja, termasuk waktu tidur. Setiap pekerja membutuhkan waktu tidur antara delapan hingga sembilan jam. Kurang tidur membuat emosi seseorang tidak stabil, kurang konsentrasi, bermasalah dengan memori dan cenderung membuat keputusan kurang tepat. Padahal hal itu sangat dibutuhkan oleh seorang profesional.

4. Bekerja saat sakit
Banyak pekerja tetap datang ke kantor meskipun sedang sakit. Padahal jika dilihat dari produktivitasnya, seseorang yang sakit jauh dari produktif saat bekerja. Jadi, lebih baik beristirahat dulu di rumah hingga sembuh daripada pekerjaan berantakan karena sakit.

5. Minum kopi berlebihan
Orang yang gila kerja seringkali minum kopi dalam jumlah banyak. Jika dilakukan terus-menerus risiko serangan jantung, gangguan pencernaan, kecanduan dan bahkan penuaan dini makin tinggi.

Agar Tak Menyesal Pindah Kerja

Mencari pekerjaan sering diibaratkan membeli kucing dalam karung. Anda tidak tahu apa yang akan Anda hadapi saat menjalani pekerjaan nanti. Oleh karena itu, Sebelum menyetujui sebuah kontrak kerja, pastikan terlebih dulu apakah Anda benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut atau tidak. Caranya, lakukan analisis kecil-kecilan terhadap jenis pekerjaan Anda. Apa saja yang harus Anda analisis?

1.  Keuntungan
Perhatikan keuntungan apa saja yang akan didapat jika bekerja di tempat kerja baru. Mulailah dengan menganalisis seberapa besar yang Anda dapatkan untuk tunjangan kesehatan, dana pensiun, dan apakah kompensasi tersebut cocok dengan kontribusi yang akan Anda berikan.

Selain itu, Anda juga harus mempertimbangkan sistem reimburse, bonus, jam kerja, dan alat-alat yang Anda dapatkan untuk menunjang pekerjaan.

2.  Lokasi dan transportasi
Perhatikan lokasi tempat kerja baru. Jika lokasinya berada jauh dari rumah Anda, bandingkanlah biaya transportasi pulang pergi dengan kemungkinan Anda dapat mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan harga murah.

Jika tidak ada kemungkinan Anda untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih dekat, hitunglah biaya yang Anda keluarkan untuk transportasi. Pastikan biaya tersebut masih dapat ditutupi dengan gaji. Dan, perhitungkan juga apakah Anda masih dapat menabung atau tidak.

Pastikan juga Anda termasuk orang yang tidak mudah mengeluh akibat kondisi jalan yang macet karena stres di pagi hari akibat kemacetan jalan dapat mempengaruhi mood bekerja. Selain itu, hitunglah berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk pergi dan pulang dari kantor.

3. Kesempatan berkembang
Tidak ada seorang pun yang mau hanya berujung pada satu posisi dan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kualitas hidupnya. Jadi, jangan sungkan untuk menanyakan pada interviewer Anda, apakah pekerjaan yang ditawarkan memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan potensi diri dan kesempatan untuk naik jabatan.

4.  Lingkungan kerja
Anda akan bekerja selama 9 jam selama 5 hari setiap minggu, berarti Anda menghabiskan hampir seluruh waktu Anda di kantor. Karena itulah, ada baiknya pastikan apakah lingkungan kerja di kantor baru cocok dengan Anda. Lihatlah lingkungan kerja dari dress code, budaya kerja (menuntut kerja cepat atau dapat dilakukan dengan santai, hirarki atau lebih demokratis), apakah visi dan misi perusahaan cocok dengan Anda, kekeluargaan, kerja tim atau individu.

Pasti akan sulit mengetahui lingkungan kerja dari interview yang sifatnya sangat formal. Namun, Anda dapat menanyakan pengalaman kerja pada pekerja yang sudah terlebih dahulu bergabung sebelum menerima tawaran kerja tersebut.

5. Keamanan kerja
Sebagai pekerja sangatlah penting untuk mengetahui sistem keamanan pekerja. Asuransi, apakah perusahaan tersebut mapan dan tidak memiliki tanda-tanda akan bangkrut adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan.

Tentu Anda tidak menginginkan mata pencaharian Anda hilang begitu saja akibat perusahaan yang pailit.

6. Di mana Anda akan berada sepuluh tahun mendatang?
Jika semua telah Anda analisa, waktunya bertanya pada diri Anda sendiri. Apa yang Anda ingin capai sepuluh tahun mendatang? Memang terdengar klise, namun ini penting untuk mengetahui apakah pekerjaan yang ditawarkan dapat membawa Anda pada tujuan hidup Anda.

Jika semua sudah cocok, maka Anda akan mencintai pekerjaan baru ini dan akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkan.

Apakah Pekerjaan Merusak Libur Anda

Agaknya waktu kerja 9 to 5(dari pukul 9 pagi ke pukul 5 sore) sudah semakin tak berlaku dengan kehidupan perkantoran saat ini.

Seperti dikutip dari situs CNet, survei terbaru oleh perusahaan penyedia plugin untuk Microsoft Outlook, Xobni, menemukan bahwa kian hari tekanan pekerjaan semakin merampas kehidupan pribadi karyawan, minimal dalam hal waktu mengecek email kantor.

Dari hasil survei terhadap 2.200 karyawan di Amerika Serikat (AS) dan Inggris, ternyata 72 persen karyawan AS dan 68 persen karyawan Inggris tetap melakukan pengecekan e-mail di luar waktu kerja mereka di kantor.

Bahkan di waktu sakit pun, 42 persen karyawan AS juga tak mau alpa dalam mengecek e-mail yang masuk ke dalam inbox mereka. Sementara itu, di kala sakit hanya 25,8 persen karyawan Inggris yang tetap mengecek e-mail mereka.

Tak hanya itu, waktu libur dan istirahat yang semestinya dimanfaatkan karyawan untuk rileks, juga dihabiskan untuk mengecek email. Sebanyak 50 persen karyawan AS dan 29 persen karyawan Inggris mengecek e-mail saat mereka sedang berlibur.

Sedangkan 19 persen karyawan AS mengecek dan merespons email, saat mereka berada di tempat tidur. Riset juga menemukan bahwa orang-orang yang berusia antara 18-34 tahun mengecek e-mail di tempat tidur dua kali lebih sering daripada para karyawan yang berusia 34-54 tahun.

Bila ditilik dari perbedaan gender, ternyata para pekerja pria (65 persen) yang lebih sering mengecek e-mail yang masuk di luar jam kantor, ketimbang wanita (51 persen).

Menurut Xobni, semua itu dilakukan karena tekanan pekerjaan. Sekitar 27 persen dari pekerja AS dan 20 persen dari karyawan Inggris mengatakan bahwa mereka merasa harus segera memberikan respons e-mail yang cepat, walaupun di luar jam kantor.

Sementara itu, 37 persen pekerja AS dan 45 persen pekerja Inggris melakukan pengecekan karena khawatir melewatkan informasi atau hal yang penting di e-mail.

Tanda-tanda Anda Diperbudak Pekerjaan

Saat ini makin banyak karyawan yang mengalami ‘sindroma kehilangan liburan’. Gangguan ini membuat pekerja tetap bekerja meskipun sedang berlibur dan tanpa dibayar.

Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan kemajuan teknologi. Adanya ponsel pintar dan laptop memungkinkan seorang pekerja bisa dihubungi kapan saja oleh atasannya untuk bekerja, dan mereka tidak menyampaikan keberatan dengan hal itu.

Menurut situs Expedia.com, dari survei yang mereka lakukan para pekerja bahkan merasa bersalah saat mengambil cuti tahunan yang merupakan haknya. Keadaan inilah yang bisa disebut sebagai tanda, Anda sedang diperbudak pekerjaan.

Padahal, situasi tersebut berdampak buruk pada kesehatan, hubungan keluarga dan kehidupan sosial. Bahkan pada beberapa kasus kebiasaan tersebut malah tidak baik bagi perkembangan perusahaan itu sendiri. Kondisi ini menurut Nick Deligiannis, kepala perusahaan perekrutan karyawan, Hays, dipengaruhi oleh situasi ekonomi yang menurun.

“Kondisi ekonomi saat ini, membuat perusahaan sangat ketat dalam menerima karyawan. Pekerja jadi memiliki beban pekerjaan yang sangat tinggi, mereka pun sering pulang larut malam, bekerja pada akhir pekan atau selama liburan,” kata Nick Deligiannis, seperti dikutip dari thebigchair.com.au.

Penelitian di Amerika Serikat menemukan, pekerja wanita juga mengalami ‘sindroma kehilangan liburan’. Deligiannis mengatakan, ada batas yang kabur antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, terutama disebabkan keyakinan setiap pekerja sangat penting untuk mengambil tanggung jawab lebih.

Hal ini mungkin berasal dari sebuah persepsi tidak akurat mengenai peran atau deskripsi pekerjaan yang mereka miliki. Atau, hal yang lebih sederhana, yaitu ketidakmampuan atau ketidakpercayaan atasan untuk mendelegasikan pekerjaannya pada bawahan.

Bagi sebagian karyawan, apa yang menjadi penting adalah tidak hanya bagaimana mereka terlihat oleh orang lain, tetapi juga bagaimana mereka melihat diri sendiri. Dalam kasus lain, mengaburkan garis berasal dari minat yang tulus dalam pekerjaan.

“Jangan biarkan diri Anda diperbudak PDA atau laptop. Batasi diri untuk memeriksa email atau pesan yang masuk saat sarapan, makan siang dan mkan malam. Cara ini membuat Anda lebih disiplin untuk memberikan waktu pada diri sendiri agar memiliki waktu bersantai. Orang yang profesional adalah orang yang tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam pekerjaan dan tidak memiliki kehidupan pribadi,” kata Deligiannis.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.