OLERESIN JAHE SEGAR DAN JAHE KERING


Abstrak

Salah satu komoditas yang dianggap mempunyai nilai ekonomi tinggi dan mudah diusahakan adalah tanaman penghasil minyak atsiri di antaranya adalah jahe. Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresi jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin. Untuk mengisolasi resin terlebih dahulu ekstraksi oleoresin yang merupakan komponen minyak atsiri dari jahe. Oleoresin dapat diperoleh atau diisolasi dengan soxhlet yang di lanjutkan dengan destilasi sederhana untuk penguapan pelarut dari rhizoma jahe kering atau jahe segar. Pada praktikum ini dilakukan pemisahan oleoresin dengan menggunakan pelarut n-heksana. Tahap pertama dilakukan dengan menggunakan metode soxhlet untuk menarik oleoresin dari sampel. Tahap selanjutnya yaitu menggunakan destilasi sederhana untuk memisahkan oleoresin dari pelarut n-hexan. Setelah di dapat oleoresin, kami melanjutkan dengan memisahkan resin dari oleoresin yang kami dapat yaitu dengan cara penambahan aquadestilata pada oleoresin dan di lanjutkan dengan destilasi sederhana. Resin akan ikut menguap dan bercampur dengan air, sedangkan yang tertinggal adalah oleoresi. Resin yang bercampur air di pisahkan lagi dengan menggunakan pelarut yang cocok untuk resin yaitu n-hexan. Ekstraksi kembali dengan menggunakan corong pisah dan lanjutkan dengan menggunakan evaporator untuk memisahkan resin dengan pelarut n-hexan.

Kata kunci : soxhlet, oleoresin, resin dan n-hexan.

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Obat merupakan komponen pendukung utama dalam pelayanan kesehatan, sehingga upaya pembangunan kesehatan senantiasa memperhatikan pembangunan di bidang kefarmasian. Hampir seluruh model pengobatan penyakit dalam dunia kedokteran menggunakan obat, sehingga kehadiran obat dapat selalu dipastikan pada setiap keberadaan pelayanan kesehatan.  Salah satu tanaman obat yang berkhasiat obat terdapat pada jahe. Jahe dalam dunia farmasi digunakan sebagai bahan obat,  jamu dan kosmetik. Jahe memiliki kandungan zat aktif aromatis yang didalamnya apabila diekstrak dengan pelarut tertentu atau dengan penyulingan akan menghasilkan oleoresin. Oleoresin merupakan campuran resin dan minyak atsiri yang dapat diekstrak dari berbagai jenis rempah. Baik rempah yang berasal dari buah, biji, daun, kulit ataupun rimpang, misalnya jahe, lada, cabe, kapulaga, kunyit, pala, vanili, kayu manis (Anonim,2008) sehingga dengan demikian perlu diketahui secara jelas tentang jahe

Jahe dengan nama latin Zingiber Officinale merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional.

Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Jahe tergolong tanaman herba, tegak, dapat mencapai ketinggian 40 – 100 cm dan dapat berumur tahunan. Batangnya berupa batang semu yang tersusun dari helaian daun yang pipih memanjang dengan ujung lancip. Bunganya terdiri dari tandan bunga yang berbentuk kerucut dengan kelopak berwarna putih kekuningan. Akarnya sering disebut rimpang jahe berbau harum dan berasa pedas. Rimpang bercabang tak teratur, berserat kasar, menjalar mendatar. Bagian dalam berwarna kuning pucat.  Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin. Jahe segar merupakan jahe yang baru dipanen dan belum mengalami perubahan struktur maupun bentuknya. Setelah jahe dipanen dan dicuci dengan air penyemprot yang bertekanan, kemudian dihamparkan dan dikering anginkan pada hamparan dengan sirkulasi udara. Bila ditinjau dari segi umur dapat dikelompokkan atas dua macam jahe segar yaitu jahe segar tua dan jahe segar muda. Jahe segar yang baru dipanen dengan garpu atau cangkul dan tidak merusak rimpang kemudian diangkut dengan peti kayu atau keranjang bambu ketempat pencucian sambil dijaga kelembabannya. Sampai di tempat pencucian jahe disemprot dengan bertekanan tinggi dengan tujuan membersihkan tanah yang menempel pada rimpang jahe tersebut, kemudian dikeringkan.sedangkan jahe kering merupakan potongan jahe yang kemudian dikeringkan. Jenis ini sangat populer di pasar tradisional.

Oleoresin jahe banyak mengandung komponen-komponen non volatil (minyak tidak menguap) yang mempunyai titik didih lebih tinggi dari pada komponen volatil minyak atsiri. Kandungan oleoresin jahe segar berkisar antara 0,4 – 3,1% (Yongki,2009).

Resin mengandung asam yang dapat mengkristal, yaitu asam gurjunik (C22H34O4), dan sejumlah kecil naphtha, yang mungkin menguap karena pemanasannya dengan ammonia dan 0.08% alkohol. Sifat fisik yang luar biasa dari minyak ini adalah pada temperatur 130oC dapat menjadi gelatin, dan pendinginan tidak dapat membekukan pencairan ini (Appanah dan Turnbull 1998).

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perbandingan oleoresin jahe segar dan jahe kering serta isolasi resin yang terkandung dalam rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.)

B. Rumusan Masalah

Apakah ada perbedaan oleoresin  rimpang jahe segar dengan rimpang jahe kering (Zingiber officinale Rosc.) ?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mendapatkan data ilmiah tentang oleoresin jahe segar dan jahe kering (Zingiber officinale Rosc.) dengan melalui metode soxhlet dan dilanjutkan dengan pemisahan resin dari oleoresin.

D. Manfaat Penelitian

    1. Mendapatkan data ilmiah oleoresin rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.)
    2. Mendapatkan data ilmiah resin rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.)
    3. Membandingkan hasil oleoresin dari rimpang jahe kering dengan rimpang jahe segar.
    4. Menjadi bahan informasi untuk masyarakat tentang manfaat penggunaan rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.)
    5. Memberikan gambaran sedekat mungkin pada mahasiswa dengan kenyataan tentang bagaimana perlakuan dalam penelitian.
    6. Memberikan wawasan yang lebih luas dari penerapan ilmu yang sudah diperoleh dari penelitian.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Uraian Tanaman


  1. Klasifikasi jahe
    Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom   : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Superdivisi      : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas              : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas        : Commelinidae

Ordo                : Zingiberales

Famili              : Zingiberaceae (suku jahe-jahean)

Genus             : Zingiber

Spesies            : Zingiber officinale Rosc.

  1. Morfologi Tanaman

Tanaman jahe berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 100 cm, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm ; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2.

  1. Jenis tanaman

Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :

1)    Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak

Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini biasa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

2)    Jahe putih/kuning

kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi.

3)    Jahe merah

Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. sama seperti jahe kecil yang mempunyai rasa pedas lebih dan jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

  1. Kandungan tamanan

Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol. Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol.

  1. Khasiat tanaman

Sejak dulu jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan lainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan. Jahe yang digunakan sebagai bumbu masak terutama berkhasiat untuk menambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh minyak asiri yang di keluarkan rimpang jahe. Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat. Penelitian modern telah membuktikan secara ilmiah berbagai manfaat jahe, antara lain :

•      Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantung memompa darah.

•      Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan lemak..

•      Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, dan serangan jantung. Gingerol juga diduga membantu menurunkan kadar kolesterol.

•      Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual. Termasuk mual akibat mabok perjalanan.

•      Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin.

•      Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

B. Oleoresin

Oleoresin adalah campuran minyak dan resin atau gum diperoleh hasil ekstraksi, pemekatan dan standarisasi minyak atsiri dari rempah-rempah. Oleoresin biasanya berbentuk cairan kental, pasta atau padat. Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin.

C. Resin

Resin ini berbentuk padatan atau resin yang mudah pecah, yang merupakan hasil dari pengerasan dari eksudat yang diikuti penguapan sebagian kecil kandungan minyak esensialnya (Appanah danTurnbull 1998).

Resin mengandung asam yang dapat mengkristal, yaitu asam gurjunik (C22H34O4), dan sejumlah kecil naphtha, yang mungkin menguap karena pemanasannya dengan ammonia dan 0.08% alkohol. Sebagian naphtha akan diserap oleh benzol atau sulfida dalam karbon. Sebagian resin yang tidak dapat dipecahkan di dalam alkohol mutlak tidak dapat mengkristal. Sifat fisik yang luar biasa dari minyak ini adalah pada temperatur 130oC dapat menjadi gelatin, dan pendinginan tidak dapat membekukan pencairan ini (Appanah dan Turnbull 1998).

D. Soxhlet

Soxhlet merupakan penyempurnaan alat ekstraksi.  Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan didalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon.

E. Destilasi sederhana

Biasanya destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan zat cair yang titik didihnya rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat atau miniyak. Proses ini dilakukan dengan mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun hasilnya tidak benar-benar murni atau biasa dikatakan tidak murni karena hanya bersifat memisahkan zat cair yang titik didih rendah atau zat cair dengan zat padat atau minyak.

F. Corong Pisah

Corong pemisah atau corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan densitas berbeda yang tak campur.

Umumnya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa pelarut organik lipofilik seperti eter, diklorometana, kloroform, n-heksan ataupun etil asetat. Kebanyakan pelarut organik berada di atas fase air kecuali pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen.

Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola. Ia mempunyai penyumbat diatasnya dan keran dibawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun Teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi antara 50 mL sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan dipasang sentrifuge.

Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.

G. Rotavapor

Rotavapor adalah alat yang digunakan dalam laboratorium kimia untuk memisahkan pelarut dari sampel dengan penguapan pelarut.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium kimia dan laboratorium farmakognosi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Depkes Manado.Waktu

Waktu

penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 – 30 september 2009

B. Definisi Operasional

Resin diperoleh dari oleoresin yang telah diekstraksikan dengan menggunakan metode soxhlet yang dilanjutkan dengan destilasi sederhana untuk pemisahan pelarut dengan oleoresin. Selanjutnya dilakukan pemisahan resin dengan cara menambahkan aquadestilata pada oleoresin kemudian didestilasi sederhana. Campuran air dan resin akan tertampung pada wadah penampungan, sedangkan oleo akan tertinggal. Setelah itu dilanjutkan dengan pemisahan air dengan resin dengan metode corong pisah menggunakan pelarut n-heksan. Air yang tertinggal diikat dengan natrium sulfat anhidrat. Setelah itu lanjutkan dengan evaporator untuk memisahkan resin dari pelarut.

C. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah rimpang jahe kering yang diserbukan dan rimpang jahe segar yang dibuat pasta yang dibeli dari Pasar Karombasan, Sulawesi Utara, Indonesia.

D. Instrumen Penelitian

Alat

  1. Beckerglas
  2. Corong pisah
  3. Panci kecil
  4. Pemanas listrik  (kompor listrik)
  5. Rotavapor
  6. Satu set alat destilasi sederhana
  7. Satu set alat sohlet
  8. Selang air
  9. Statif

Bahan

  1. Aluminium foil
  2. Aquadestillata
  3. Jahe kering yang telah diserbukan
  4. Jahe segar yang telah dibuat pasta
  5. Kertas saring
  6. Natrium sulfat anhidrat
  7. n-heksana
  8. Tissue

  1. E. Prosedur Penelitian
    1. Penyiapan sampel
      1. Bersihkan rimpang jahe segar kemudian dirajang. Dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, kemudian dihaluskan.
      2. Bersihkan rimpang jahe segar, kemudian dibuat pasta.
      3. Penyiapan instrument
        1. Rangkaian alat soxhlet
        2. Rangkaian alat destilasi sederhana
        3. Rangkaian alat corong pisah
        4. Rangkaian alat rotavapor
          1. Prosedur kerja
            Lakukan penyiapan sampel
  • Jahe yang telah diserbukan
  • Jahe yang telah dibuat pasta
  1. Bungkus sampel dengan kertas saring menyerupai wadah dari thimble soxhlet. Penarikan oleoresin menggunakan larutan penyari n-heksana dengan jumlah 2/3 labu didih pada alat set soxhlet. Daur larutan penyari  pada soxhlet dilakukan sebanyak 20-25 rotasi/siklus.
  2. Setelah itu lakukan pemisahan pelarut dengan oleoresin, dengan cara destilasi sederhana.
  3. Uji karakteristik oleoresin apakah memenuhi standar yang telah ditentukan dengan cara :
    1. i.      Ukur Bobot jenis
    2. ii.      Ukur Massa jenis
    3. iii.      Indeks bias
    4. iv.      Uji sifat fisik/ uji organoleptik
    5. Oleoresin yang telah lolos dari uji karakteristik, kemudian lanjutkan dengan pemisahan resin dengan cara menambahkan aquadestilata, kocok kuat sehingga tercampur dengan baik.
    6. Lakukan destilasi kembali sehingga resin akan menguap pada bak penampungan bersama dengan air, sedangkan yang tertinggal adalah oleo.
    7. Setelah itu lakukan pemisahan resin dari air dengan cara ekstraksi menggunakan metode corong pisah dengan pelarut n-heksana. Resin akan terlarut pada pelarut n-heksana.
    8. Ikat air yang tertinggal dengan natrium sulfat anhidrat secukupnya.
    9. Kemudian lanjutkan dengan evaporasi untuk memisahkan resin dari pelarut n-heksana.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembahasan

Pada percobaan ini dilakukan isolasi resin dari rimpang jahe dengan tujuan untuk memahami teknik isolasi senyawa bahan alam minyak atsiri menggunakan metode soxhlet. Metode ini kemudian dilanjutkan ke metode destilasi sederhana dengan mempelajari sifat fisik minyak atsiri. Langkah pertama yang dilakukan yaitu rimpang jahe segar dibuat pasta dan jahe kering dibuat serbuk. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengisian sampel dalam alat soxhlet, namun sebelum itu sampel ditimbang masing-masing 75 g, bungkus dengan kertas saring lalu dimasukkan ke dalam alat soxhlet. Pelarut yang digunakan adalah pelarut n-heksana yang diukur sebanyak 2/3 mL labu didih. Digunakan pelarut ini sebab dengan sifat non polarnya sehingga lebih cepat melarutkan minyak atsiri dan mempermudah proses ekstraksi bila dibandingkan dengan pelarut lain.

Dalam hal ini digunakan metode soxhlet karena  merupakan metode penyempurnaan dari proses isolasi minyak atsiri. Alat soxhlet terdiri dari kondensor yang dilengkapi dengan saluran sirkulasi air (air Pada eksraksi ini komponen yang ingin diekstrak ditarik keluar dari bahan asal dengan bantuan pelarut tertentu yang titik didihnya tidak tinggi.masuk dan keluar) labu didih sebagai tempat pelarut dan hasil ekstraksi. Cara ini digunakan untuk mengekstrak salah satu komponen seperti minyak atsiri dari suatu bahan yang tidak dapat diekstrak dengan menggunakan jenis ekstraksi lain. Uap  cairan penyari naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali oleh pendingin tegak. Cairan turun ke labu melalui tabung berisi serbuk simplisia. Adanya sifon, mengakibatkan seluruh cairan akan kembali ke labu. Cara ini lebih menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia tetapi melalui pipa samping (Anonim, 1986).

Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak factor dengan  memenuhi criteria sebagai berikut :

  • Murah dan mudah diperoleh
  • Stabil secara fisika dan kimia
  • Bereaksi netral
  • Tidak mudah menguap
  • Tidak mudah terbakar
  • Selektif, yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki.
  • Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
  • Diperbolehkan oleh peraturan (Anonim, 1986)

Hasil yang kami peroleh dalam praktikum ini kemudian diperiksa secara organoleptik mengacu pada sifat fisik oleoresin seperti yang tercantum pada tabel diatas. Dari kedua perlakuan sampel terdapat perbedaan yang jelas, dimana dengan jehe  kering memberikan jumlah volume hasil ekstraksi yang dihasilkan jauh lebih banyak dari rimpang jahe basah, dari segi waktu soxhletasi sampel rimpang jahe kering lebih cepat daripada sampel rimpang jahe basah. Hal inilah yang memberikan keunggulan bahwa rimpang jahe kering dengan metode soxhlet memberikan hasil yang lebih baik.

Dari hasil diatas dapat dihitung bobot jenis, massa jenis dan kadar oleoresin dari rimpang jahe kering yaitu bobot jenis 0,8901, massa jenis 0,5956 g/mL, dan kadar oleoresin 1,58%. Untuk oleoresin rimpang jahe basah tidak dapat dihitung bobot jenis dan massa jenisnya disebabkan karena volumenya yang terlalu kecil sedangkan untuk kadar oleoresinnya adalah 1,13%.

Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat perbandingan antara jahe kering dengan jahe segar yaitu :

  1. Kadar oleoresin jahe kering 1,58% dan kadar oleoresin jahe segar 1,13%
  2. Bobot oleoresin jahe kering 1,1912 g dan bobot oleoresin jahe segar 0,8518 g
  3. Volume oleoresin jahe kering 6,5 mL dan volume jahe segar 0,9 mL
  4. Warna oleoresin jahe kering  kuning kecoklatan dan warna oleoresin jahe segar kuning muda

Selanjutnya untuk memisahkan resin dari oleoresin jahe ditambahkan aquadestillata secukupnya kemudian didestilasi sederhana. Air akan menguap bersama resin, kemudian untuk memisahkan air dengan resin ditambahkan kembali pelarut n-heksana dan dipisahkan dengan corong pisah. Ikat air yang tertinggal dengan natrium sulfat anhidrat, saring  kemudian dievaporasi untuk memisahkan n-heksana dan resin. Hasil evaporasi yang diperoleh kemungkinan besar adalah resin. Dapat dikatakan demikian karena berdasarkan uji organoleptik yang kami lakukan sesuai dengan ketentuan literatur bahwa resin berbentuk seperti gum dan larut dalam etanol.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa rimpang jahe kering lebih banyak mengandung oleoresin dari pada rimpang jahe segar (Zingiber officinale Rosc.). Hasil evaporasi yang diperoleh kemungkinan besar adalah resin.

  1. B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian diatas maka perlu dilakukan pengujian lebih lanjut mengenai proses isolasi resin seperti Kromatografi Lapis Tipis (KLT), spektrofotometri UV-vis sehingga dapat dipastikan secara jelas resin yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima.2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Jahe.Diakses tanggal 18 september 2009

Anonimb.2008.http://www.ebookpangan.com/ARTIKEL/JAHE,%20RIMPANG%20DENGAN%20BERBAGAI%20KHASIAT.pdf.Diakses tanggal 24 september 2009.

Anonimc. 2009. http://www.aagos.ristek.go.id/pertanian/jahe.pdf. Diakses 18 september 2009

Anonimd. 1993. http://www.geocities.com/Vienna/strasse/2994/jahe.html.Diakses 18 september 2009

Anonime. 2009. http://www.plantamor.com/index.php?plant=1306. Diakses24 september 2009

Anonimf. 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Corong_pemisah. Diakses 18 september 2009

Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI Politeknik Kesehatan Manado. 2008. Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Karya Tulis Ilmiah. Manado.

Guenther, E., 1987,Minyak Atsiri, Jilid 1,Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Lentera, Tim,, 2004,Khasiat dan Manfaat Jahe Merah Si Rimpang Ajaib.PT Agromedia Pustaka, Jakarta

2 Responses to “OLERESIN JAHE SEGAR DAN JAHE KERING”

  1. nonove Says:

    good Job….^^…

    thx, ijin copas dikit bwt laporan praktikum….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: