Kecemasan dan sosiophobia


Setiap orang pasti memiliki rasa cemas. Rasa cemas muncul saat menghadapi kenyataan atau peristiwa tertentu. Misalnya, kecemasan akan kegagalan pada saat menghadapi sesuatu yang baru, atau kecemasan yang dirasakan ketika harus berbicara di depan banyak orang, dan lain-lain.

Saat seseorang didera kecemasan, tidak sedikit yang tidak bisa tidur dengan tenang, jantung berdebar-debar kencang, dan kelainan lain sebagai akibat dari cemas yang dirasakannya. Kecemasan semacam ini disebut dengan ‘kecemasan terhadap sesuatu’.

Bila Anda dilanda kecemasan terhadap sesuatu, Anda dapat mengantisipasi agar apa yang Anda cemaskan tidak terjadi. Misalnya agar tidak gagal dalam menghadapi suatu audisi, Anda dapat membuat persiapan jauh-jauh hari sebelumnya, misalnya dengan berlatih sebaik-baiknya, minta nasihat kepada orang yang Anda anggap lebih berpengalaman, dan lain-lain.

Bila dipikirkan lebih jauh, sebenarnya beberapa peraturan atau kebiasaan yang dilakukan, muncul karena adanya kecemasan. Misalnya pengendara sepeda motor mengenakan helm untuk menghindari cidera berat pada kepala saat kecelakaan. Latihan penanganan bom yang akhir-akhir ini sering dilakukan terutama di gedung-gedung besar di Jakarta, juga berdasarkan pada kecemasan itu.

Tindakan-tindakan yang sifatnya preventif tersebut bertujuan untuk memberi bekal atau melatih diri sendiri agar siap untuk menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi di luar kehendak dan dugaan. Seandainya Anda tidak memiliki kecemasan terhadap kemungkinan buruk, maka kemungkinan Anda tidak dapat melindungi diri sendiri.

Berbeda dengan kecemasan terhadap sesuatu, ada pula kecemasan yang timbul tanpa ada sebab atau objek tertentu. Kecemasan ini disebut dengan ‘kecemasan tak berobjek’. Keadaan sesungguhnya dari kecemasan yang disebabkan oleh sesuatu yang kabur ini berhubungan dengan pemikiran yang mendalam atau ketakutan akan sesuatu, termasuk kematian.

Sesungguhnya sejak dilahirkan, setiap manusia telah memiliki ketakutan akan kematian. Akan tetapi, dalam aktivitas kesehariannya manusia menghadapi banyak kejadian dan kenyataan dan harus terus meresponnya. Hal ini dapat terus berlangsung karena tanpa disadari, jiwa manusia bekerja untuk menghilangkan ketakutan terhadap kematian tersebut.

Akan tetapi, bila seseorang sedang mengalami stres atau sedang memiliki masalah berat, sering kali sesuatu yang tidak berwujud itu seolah menjadi sesuatu yang terlihat nyata baginya. Pada saat seperti ini, upaya menghilangkan ketakutan-ketakutan yang selama ini dilakukan tidak berfungsi dengan baik.

Ringankan gejala
————————–
Ada berbagai macam gejala yang muncul pada saat seseorang merasa cemas. Misalnya, menjadi sangat panik, tiba-tiba menjadi takut untuk naik kendaraan, tidak dapat memegang sesuatu dengan benar, merasa ada yang salah dengan tubuhnya, dan lain-lain. Gejala yang timbul akibat dari kepanikan ini beraneka ragam pada setiap orang. Akan tetapi, sekali gejala tersebut muncul, tubuh akan merekamnya sehingga gejala ini akan muncul berulang.

Berbagai macam bentuk gejala yang ditimbulkan dari kecemasan tanpa objek sebagaimana dicontohkan di atas, dalam bahasa medis disebut dengan nervous breakdown. Istilah yang berarti kelainan pada saraf ini pertama kali muncul di Eropa, sebagai bagian dari bahasan psikoanalisis.

Akan tetapi, permasalahan yang menyangkut kejiwaan adalah suatu jenis penyakit yang sulit dijelaskan karena dapat disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan pertumbuhan, lingkungan yang didiami saat ini, tingkat sensitivitas yang dimiliki, dan masalah lain yang bersifat personal dan juga keadaan di sekelilingnya.

Ada beberapa alasan mengapa memprioritaskan untuk meringankan gejala yang timbul karena cemas dinilai lebih baik. Sebagai contoh, kita bahas tentang panik. Panik timbul secara mendadak sebagai akibat dari kecemasan yang hebat. Pada saat yang bersamaan, detak jantung menjadi tidak teratur, susah bernafas, pening, tubuh terasa kaku, dan keringat dingin keluar dengan deras. Saat semua keluag itu terjadi bersamaan, mungkin penderita akan berpikir bahwa ia akan mati.

Tidak sedikit pula orang yang dibawa ke rumah sakit hanya karena mengalami panik. Ketika berada di rumah sakit, walau telah diperiksa berkali-kali, ternyata tidak ditemukan keanehan pada tubuhnya.

Masalah yang timbul kemudian, penderita mungkin akan berpikir bahwa suatu kali ia akan mengalami hal yang sama. Pemikiran ini dapat menimbulkan stres baru, yaitu kecemasan akan pemikirannya sendiri. Kecemasan bentuk ini akan menimbulkan ketakutan, misalnya untuk ke luar rumah, takut naik kendaraan, dan pada akhirnya dapat menyadi penyebab timbulnya sosiofobia.

Jadi bila gejala kecemasan terjadi secara berulang dan berkelanjutan akan menimbulkan bentuk kecemasan yang baru. Untuk mengatasinya, memprioritaskan untuk meringankan gejala yang timbul serta mencegah terbentuknya jenis kecemasan baru.

Bila gejala sudah mereda, lakukan usaha untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi terbiasa. Hal ini juga berarti melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan stres yang sering menimpanya. Bila hal ini terus menerus dilakukan, maka diharapkan orang tersebut dapat hidup normal kembali seperti sebelum ia merasakan kecemasan-kecemasan.

Konsultasi dengan pakar
—————————-
Bila seseorang tidak dapat mengatasi kecemasannya, dikhawatirkan akan muncul pemikiran bahwa dirinya adalah manusia yang lemah. Orang lain mungkin juga akan melihatnya seperti itu. Pendapat ini akan semakin memperburuk keadaan.

Saat terkena stres, semua orang pasti akan merasa cemas, meskipun kadarnya ringan, sedang atau berat. Persaingan yang ketat dalam pekerjaan, masalah yang terjadi dalam rumah tangga maupun masalah yang dihadapi dalam berhubungan dengan orang lain merupakan beberapa faktor penyebab semakin meningkatnya jumlah penderita stres.

Pada keadaan seperti itu, ada baiknya untuk selalu mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang dihadapi, kecemasan yang dialami, merupakan sesuatu yang wajar dialami oleh setiap manusia. Pemikiran positif seperti ini sangat berguna untuk menolong diri sendiri duntuk mengatasi kecemasan.

Namun ada kalanya saat kecemasan memuncak, beberapa orang cenderung mengalami kesulitan untuk mengontrolnya. Bila gejala-gejala buruk telah muncul, sesegera mungkin minta bantuan kepada psikolog. Tujuannya agar gejala yang timbul tidak semakin memburuk.

Saat ini di setiap rumah sakit besar di Indonesia, tersedia jasa psikolog. Bahkan seperti layaknya dokter, banyak psikolog yang sudah berpraktek sendiri di rumah atau tergabung dalam suatu lembaga tertentu. Pilih psikolog yang cocok, dan percayakan masalah Anda padanya. Atau jika Anda tidak punya cukup uang untuk berkonsultasi dengan psikolog, pilih teman atau saudara yang Anda percaya. Berbagi dengan meraka, paling tidak akan mengurangi sebagian dari masalah Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: