Tan Malaka Dinilai Layak Diberi Gelar Pahlawan


Jakarta (ANTARA) – Penulis buku berkebangsaan Belanda Harry A Poeze menilai, Tan Malaka layak mendapat gelar pahlawan nasional karena telah melakukan perjuangan lintas bangsa dan lintas benua dengan keberhasilannya mempengaruhi sejarah Indonesia.

“Tan Malaka layak mendapat gelar pahlawan nasional Indonesia, karena dari 120 nama pahlawan nasional yang tercatat nama Tan Malaka belum ada,” kata Harry A Poeze pada peluncuran buku “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi” di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis.

Harry Poeze meneliti dan menulis trilogi buku mengenai biografi Tan Malaka dalam bahasa Belanda yang menjadi bahan disertasinya guna meraih gelar doktor di Universitas Amsterdaam, Belanda.

Buku mengenai Tan Malaka tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi”.

Menurut Harry A Poeze, perjuangan Tan Malaka yang lintas bangsa dan lintas benua dengan tanpa pamrih itu tapi hingga saat ini belum diketahui lokasi makamnya.

“Kepastian bahwa Tan Malaka dimakamkan di Kediri, Jawa Timur, harus dibuktikan melalui uji DNA dari sebuah makam yang ditemukan di kota tersebut,” katanya.

Pegawai perpustakaan Kerajaan Belanda ini mengatakan, dirinya menulis trilogi buku mengenai biografi Tan Malaka karena sangat tertarik dengan sosok Tan Malaka sebagai petualang misterius yang melawan kolonialisme tapi selalu menjadi pecundang.

Menurut Harry, dirinya tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Tan Malaka, sehingga memudahkan dirinya menulis tokoh tersebut secara obyektif.

“Saya tertarik untuk meneliti dan menulis mengenai Tan Malaka, sekaligus tertarik dengan sejarah Indonesia. Tan Malaka saat itu adalah orang muda yang memiliki peranan besar tapi selalu dikalahkan dan selalu menghilang,” ujar Harry.

Dengan kondisi tersebut, menurut Harry, dirinya secara humanis tergerak atau terinspirasi menulis sejarah hidup dan politik Tan Malaka yang selalu dikalahkan dalam petualangannya.

Pria kelahiran Lappersum, Belanda, pada 20 Oktober 1947 ini menambahkan, dirinya merasa lebih obyektif menuliskan Tan Malaka yang selalu menekankan Islam sebagai kekuatan revolusioner di Indonesia.

Sementara itu, politikus dari Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menilai, Tan Malaka adalah sosok yang lebih hebat dari Soekarno dan Hatta, tapi dirinya tidak berada di era yang tepat atau telah melewati masanya.

“Ketidaktepatan waktu tersebut, menyebabkan Tan Malaka tak menjadi sosok yang diagung-agungkan dan berhasil memimpin bangsa Indonesia,” katanya.

Menurut Roy, banyak orang pintar di Indonesia tapi karena tidak berada dalam era yang tepat, maka orang pintar itu tidak berhasil.

“Sehebat apapun Tan Malaka, kalau bukan masanya, dia tak akan berhasil,” ujar Roy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: