Temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb)


Dalam kesempatan ini saya akan memberikan data-data mengenai tumbuhan asli Indonesia yaitu Temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb). Tumbuhan ini yang akan menjadi topik penelitian skrpsi saya. Dalam penelitian ini saya akan mengestrak dan mengisolasi senyawa metabolit yang ada apada tanaman temulawak ini. Namun ada baiknya saya member sedikit informasi mengenai tanaman temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb) ini.

a. Klasifikasi
Menurut ilmu tumbuh-tumbuhan (taksonomi) tanaman temulawak termasuk dalam golongan dan tata nama tumbuhan sebagai berikut (Anonim 2, 2000) :
Divisi        : Sphermatophyta
Subdivisi  : Angiospemae
Kelas        : Monocotyledonae
Bangsa     : Zingiberales
Suku         : Zingiberaceae
Marga      : Curcuma
Jenis         : Curcuma xanthorihiza Roxb
b. Habitat dan Pertelaan
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli Indonesia (Setiawan, 2000). Penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Tumbuhan ini telah dibudidayakan dan banyak ditanam atau tumbuh liar di pekarangan atau tegalan terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar (Kunia, 2006), banyak juga ditemukan di hutan-hutan daerah tropis seperti di hutan jati dan di padang alang-alang (Anonim 1, 1979). Tanaman ini tumbuh produktif pada tempat terbuka yang terkena sinar matahari dan dapat tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebaiknya tumbuhan ini ditanam pada ketinggian 200-600 m diatas permukaan laut (Setiawan, 2000).
Tanaman herba ini memiliki tinggi kurang lebih 2 meter, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap (Anonim 1, 1979). Akar-akar dibagian ujung membengkak membentuk umbi yang kecil (Setiawan, 2000). Umbi akan muncul dari pangkal batang. Rimpang induk dapat memiliki 3-4 buah rimpang, warna kulit rimpang cokelat kemerahan atau kuning tua, sedangkan warna daging rimpang oranye tua atau kuning. Rimpang temulawak terbentuk di dalam tanah pada kedalaman sekitar 16 cm. Tiap rumpun umumnya memiliki 6 buah rimpang tua dan 5 buah rimpang muda (Laksmi, 2007). Rimpang induk bentuknya jorong atau gelendong, rimpang cabang keluar dari rimpang induk yang ukuranya lebih kecil yang tumbuh ke arah samping dan warna lebih mudah (Setiawan, 2000).
Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 sampai 2,5 meter berwarna hijau atau cokelat gelap. Pelepah daunnya saling menutupi membentuk batang (Laksmi, 2007). Daunnya bundar panjang , mirip daun pisang, tiap batang mempunyai daun 2-9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31-84 cm dan lebar 10-18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43-80 cm. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak (Laksmi, 2007).
Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan bunganya berukuran pendek dan lebar, warna putih atau kuning tua dan pangkal bunga berwarna ungu. Bunga mejemuk berbentuk bulir, bulat panjang, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm. Bunga muncul secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung yang besar dan beraneka ragam dalam warna dan ukurannya. Mahkota bunga berwarna merah. Bunga mekar pada pagi hari dan berangsur-angsur layu di sore hari. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8-13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4,5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25-2 cm dan lebar 1 cm. Temulawak belum pernah dilaporkan menghasilkan biji, karena penanaman temulawak dengan cara menanam rimpang temulawak tersebut. Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang) (Laksmi, 2007).
c. Kegunaan
Kurkuminoid secara klinis berkhasiat mencegah penyakit jantung koroner, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penggumpalan darah, penambah nafsu makan, pengobatan hepatitis, penurun kadar kolesterol darah, mencegah stroke (Sidik,2006). Selain itu kurkumin sebagai acnevulgaris, anti inflamasi (anti radang), antioksidan, anti hepototoksik (anti keracunan empedu). Kandungan kurkumin dan monodesmetoksi kurkumin yang bersifat antitumor (Kunia, 2006).
Minyak atsiri pada temulawak terdiri atas 32 komponen yang secara umum bersifat meningkatkan produksi getah empedu dan mampu menekan pembengkakan jaringan, membersihkan perut, dan memperlancar ASI serta dapat membunuh mikroba atau fungistatik. Xanthorrizol salah satu komponen minyak atsiri pada percobaan invitro berkhasiat mengobati kanker payudara, paru-paru dan ovarium dan pencegah rusaknya email gigi (mencegah plak) (Laksmi, 2007). Zat warna kuning temulawak (kurkuminoid) dan minyak atsiri mempunyai kemampuan mempercepat regenerasi sel-sel hati yang mengalami kerusakan akibat pengaruh racun kimia (Kunia, 2006).
d. Mikroskopik

Epidermisnya bergabus, dan terdapat sedikit rambut yang berbentuk kerucut bersel satu. Dibawahnya terdapat periderm yang kurang berkembang. Korteks dan silinder pusat parenkimatik terdiri dari sel parenkim berdinding tipis berisi butir pati. Dalam parenkim tersebar banyak sel minyak yang berisi minyak berwarna kuning dan zat berwarna jingga., juga terdapat idioblas berisi hablur kalsium oksalat berbentuk jarum kecil. Butir pati berbentuk pipih, bulat panjang ampai bulat telur memanjang (Laksmi, 2007).

Panjang butir 20 ŵm sampai 70 ŵm, lebar 5 ŵm samapai 30 ŵm, tebal 3 ŵm sampai 10 ŵm. Lamella jelas dan hilus di tepi, berkas pembuluh tipe kolateral, tersebar tidak beraturan pada parenkim korteks dan pada silinder pusat. Berkas pembuluh disebelah dalam endodermis tersusun dalam lingkaran dan letaknya lebih berdekatan satu dengan yang lainnya. Pembuluh didampingi oleh sel sekresi yang panjangnya sampai 200 ŵm, berisi zat berbutir warna coklat dengan besi (III) klorida LP menjadi lebih tua (Anonim 1, 1979).

Semoga informasi yang saya berikan dapat bermanfaat bagi temen-temen semua…o ya..jangan lupa beri komentar yah …makasih !

Pustaka

Anonim 1. (1979). Materia Medika Indonesia, Jilid III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim 2. (2000). Tanaman Obat Indonesia, Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial republik Indonesia Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2000.

Anonim 3. (2005). Isolasi Temulawak, (online). (http://www.iptek.net.id/ind/cakara_ Tanaman obat, diakses 28 Desember 2009)

Basila Rahmayani. (2005). Identifikasi Senyawa Metabolit Skunder Pada Kulit Buah Naga (Hylocereus undatus) Dalam Ekstrak Etil Asetat.Skripsi Kimia FMIPA UNY Yogyakarta.

Hardjono Sastrohamidjojo.(1985). Kromatografi. Yogyakarta: Liberty

One Response to “Temulawak (Curcuma xanthorihza Roxb)”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: